Rabu, 04 Maret 2009

Tune Up Yamaha Mio Soul dengan Patok Kompresi 12: 1

Enggak percuma memang! Maksudnya, tampilan Yamaha Mio Soul milik Mr. Mamen yang mengusung ala drag bike versi Thailand. Meski baru pertama pentas di arena balap lurus 201 meter, Soul ini sudah kasih bukti podium 1 kelas FFA Matic di Sentul 2 minggu lalu. Bukan sekadar janji tok!

“Kuncinya, fokus power di putaran tengah ke atas,” ujar Mariasan Kocek, mekanik tim JP Racing. Begitunya, tenaga tersalur tanpa banyak waktu terbuang saat start. So, Adrianto alias Botak selaku joki, gak khawatir hilang banyak waktu akibat liarnya putaran bawah. Spin or wheelie, no!

Maklum! Selisih 0,2 detik, itu sangat berarti! Kan, balap lurus cuma satu kali jalan. Tak seperti road race yang bisa memperbaiki catatan waktu di putaran atau lap berikutnya.

Ngomong soal kuncian, kita buka bareng nyok! Soale, mekanik akrab disapa Marco ini berani buka rahasia. Enggak takut dicontek, macam siswa ujian deh. Mulai dari kompresi dulu aja ya?KLIK - Detail

Kompresi dipatok untuk bermain di angka 12 : 1. Hasil ini didapat dari pemakaian piston jenong milik salah satu motor Kawasaki. Sayangnya, Marco lupa dengan tipe motornya. “Pokoknya yang penting, ukurannya 65 mm,” sebut mekanik merangkap pembalap Banten yang berhasil rebut perunggu di PON XVII, Samarinda, Kaltim.

Bergantinya piston itu, tentu butuh penyesuaian di bagian kepala silinder. Tentu, diameter klep harus diperbesar juga. Enggak tanggung, klep mobil Toyota Camry diaplikasi menggantikan klep standar.

Ukuran klep dibuat ulang, sehingga tercipta diameter payung klep 34 mm buat klep masuk dan 29 mm untuk klep buang. Setelah itu, panjang batang klep juga disesuaikan dengan head silinder Mio. Yaitu, 67 mm untuk klep masuk dan 66 mm untuk klep buang.

Selesai main di klep, step berikutnya Marco bermain di papasan. Yup! Biar tidak terlalu ekstrem, dua kali uji coba dilakukan. Maksute, dilakukan dua kali pemangkasan. Buat papasan pertama, head dipapas 0,5 mm.

Diukur kompresi, didapat angka 11 : 1. Merasa kurang, kepala silinder dipapas lagi 0,3 mm. “Akhirnya, ketemu juga angka kompresi 12 : 1. Oh ya, squish head dibikin jadi 13º. Dan, dua kali papas ini sengaja biar enggak kebablasan,” ungkap pria kutilang alias kurus tinggi langsing ini. He..he..he…

Let’s say no to wheelie!
STROKE NAIK 11 MM
Alasan lain Marco patok kompresi tidak terlalu tinggi, juga karena stroke yang sudah berubah. Menurutnya, langkah piston sekarang menjadi 80 mm. Angka ini didapat dari pemakaian setang piston milik Suzuki TS125. Lho kok, ganti setang piston belum tentu naikan stroke kan?

Sabar! Taunya dengan pakai part pendorong piston TS ini, pen stroke alias pen setang bisa digeser maju lagi. Itu karena diameter pen kruk as milik TS hanya 19 mm ketimbang milik Mio yang 28 mm. Begitunya, pen jadi bisa digeser 11 mm.

Langkah terakhir di mesin ‘atas’, tinggal sesuaikan tebalnya paking akibat majunya stroke. “Paking aluminium sepanjang 3,5 cm digunakan. Itu juga masih menyisakan jarak antara piston dan head cukup jauh,” ungkap Kocek yang bukan uang ini.

PULI KAWAHARA
Buat bantu rpm sentuh putaran lebih tinggi, ada part di yang disentuh. “Puli bagian roller pakai merek Kawahara. Lalu, derajat atau got roller diubah lagi,” buka pembalap Honda ini.

Got yang tadinya punya sudut landai 14º, diubah jadi 13,5 derajat. Begitunya, kombinasi roller11 dan 10 gram ini mampu bermain lebih jauh lagi. So, rpm putaran atas mampu teriak sesuai permintaan gigi rasio yang dipakai. Yaitu, 16/39 mata. Berat tuh?

DATA MODIFIKASI
Ban IRC 60/100-17
Knalpot Kawahara
CDI Shindengen R7
Karburator Keihin PE 28 reamer 30 mm
Main/pilot-jet 128/42
Bahan bakar Bensol
Setang Variasi Thailand
Sok belakang RPM

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar