Selasa, 03 Maret 2009

Beda Kiprok dan Regulator

kiprokArus listrik yang dihasikan sepul pengisian tipenya AC (bolak balik). Arah dan besar tegangan selalu berubah mengikuti putaran magnet. Makanya, tegangan yag dihasilkan sepul pengisian kurang lebih 20 volt di putaran tinggi.
Arus listrik yang dihasikan sepul pengisian tipenya AC (bolak balik). Arah dan besar tegangan selalu berubah mengikuti putaran magnet. Makanya, tegangan yag dihasilkan sepul pengisian kurang lebih 20 volt di putaran tinggi.
Cuma masalahnya sistem kelistrikan di motor menganut tegangan 12 volt DC. Maka dibutuhkan kiprok alias pengatur besar tegangan pengisian. Guna mengubah arus AC jadi DC yang akan disuplai ke aki juga mencegah arus listrik di aki balik ke sepul pengisian.

Kiprok sendiri dipakai di motor yang masih pakai aki. Dimana aki jadi tumpuan utama semua kelistrikan motor. "Tapi begitu aki soak (tidak fit) atau sengaja dilepas, peranti kelistrikan motor jadi gampang rusak. Itu karena aki juga sebagai penyetabil. Sebagai indikator, bohlam lampu sering putus ketika mesin berputar tinggi, " ujar Sugiharto, mekanik Angkasa Jaya Motor.

Tapi, seiring perkembangan teknologi juga melihat banyak konsumen enggan pakai aki, pabrikan mengembangkan kiprok jadi regulator/rectifier. Meskipun regulator masih didukung perangkat kiprok gabungan komponen tambahan sebagai penyetabil tegangan. Sehingga bila tunggangan tak dilengkapi aki, bohlam lampu tidak cepat putus.

Sayangnya sampai saat ini masih banyak konsumen salah kaprak soal kiprok dan regulator. Ketika motor mengalami masalah diseputar kelistrikan, kiprok dianggap sebagai biang keladi. Padahal kiprok sendiri di motor rakitan sekarang sudah jarang dipakai.

Nah, untuk mengetahui secara gamblang beda kiprok dan regulator adalah dari harga. Harga kiprok lebih murah ketimbang regulator lantaran di dalam part ini cuma ada dioda. Di toko paling mahal Rp. 20.000 sedangkan regulator KW2 diatas Rp. 40.000 (Gbr.1). Sementara di dalam regulator, selain dioda juga ada peranti elektronik tambahan yang berfungsi menstabilkan tegangan (Gbr.2)

.

Lalu cara lain melihat kemampuan regulator bisa juga membaca besar tahanan (ohm) di kaki terminalnya pakai multitester dengan range 1 kilo ohm. Maka di dua kaki sisi kanan regulator akan terbaca arus searah tanda dioda bekerja. Sementara 2 kaki sebelahnya akan terbaca jarum penunjuk multitester sebesar 50 kilo ohm, meskipun di tes bolak balik.

Kalau jarum bergerak ke kanan sampai mentok atau tidak bergerak sama sekali itu tandanya bahaya. Artinya regulator sudah rusak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar